|
Kota Kediri-Apapun yang ditekuni pasti akan membawa hasil. Meskipun itu hanya sekadar hobi yang terlihat remeh dan sederhana. Mungkin mulanya hanya hobi, namun kalau digarap serius dengan semangat interpreneur yang tinggi, tidak mustahil hobi yang remeh itu akan menjadi usaha yang besar. Keyakinan ini adalah modal penting untuk membangun semangat kewirausahaan bagi masing-masing individu yang patut ditularkan kepada perserta PelatihanĀ Kerajinan Sulam pita yang digelar Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri belum lama ini.
Dibuka langsung Kepala Dinas Koperasi UMKM Kota Kediri, Pelatihan Kerajinan Sulam Pita untuk Pemasyarakatan Kewirausahaan dan Pengembangan Sistem Insentif Bagi Wirausaha Baru digelar di Gedung PKPRI Kota Kediri. Sedangkan materi pelatihan diberikan oleh Trusti Judiarto dari MS Hasta Karya Ndalem Pakaryan Sulam Ketintang Surabaya.
Menurut Trusti, jangan meremehkan pada pekerjaan menyulam. Jangan pula meremehkan warna-warni pita yang kelihatannya mungil. Karena karya sulam bisa dibuat untuk menggantungkan hidup. Memang, image-nya sulam pita adalah pekerjaan rumahan. Namun jangan salah, sulam pita mempunyai potensi sangat besar untuk mengeruk rupiah.
Lebih jauh kepada peserta pelatihan Trusti mengatakan, menyulam adalah jenis pekerjaan tangan yang sudah dikenal dan digemari sejak dahulu kala. Bahkan, di beberapa negara maju kegiatan sulam menyulam masih berlangsung dan menjadi satu pilihan pengisi waktu luang sekaligus menjadikannya sebagai peluang bisnis. Selain bahan baku dari sulam pita mudah ditemui dan gampang didapat, yang terpenting adalah bahan baku sulam sangat murah meriah.
Dalam sejarahnya, geliat sulam pita tak pernah lenyap dari kancah dunia fashion, akan tetapi sulam pita juga tak pernah tampil begitu menonjol sebagai primadona. Namun sentuhan handmade dari lilitan cantik pita pada sebuah produk, tetap memesona siapa saja ataupun kancah dunia fashion yang profesional maupun home decoration hingga kini.
Sulam pita pertama kali ditemukan di Perancis pada mas gaya Rococo sekitar tahun 1700-an. Karena itu kerajinan sulam pita ada menyebutnya sebagai Rococo Embroidery. Tren sulam pita kemudian menyebar ke Inggris dan populer di kalangan bangsawan Inggris. Dari Inggris kemudian menyebar ke Amerika, Canada, Australia dan Newzealand. Di Australia teknik sulam pita dikenal dengan sebutan Victorian Ribbon Embroidery yang diaplikasikan pada baju, sarung bantal, aksesoris rambut dan sebagainya.
Di Indonesia, kini sulam pita juga mulai menjamur. Namun sesunguhnya, Indonesia sudah mengenal sulam sejak nenek moyang di jaman kerajaan, kendati teknik dan bahannya berbeda. Karena ini juga merupakan warisan budaya, tak salah jika kita memelihara dan meneruskannya sebagai warisan budaya sekaligus untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan kualitas, serta mengupayakan agar kerajinan sulam dapat lebih memasyarakat.
Kepada peserta pelatihan Trusti menekankan, supaya sulam pita diterima pasar sebaiknya sulam diselaraskan dengan berbagai acara yang sedang berlangsung. Formal maupun santai. Untuk acara santai misalnya, corak pita sebaiknya lebih sepi. Sebagai teman dari karya sulam pita ini, dipilih benang sulam dan sedikit payet. Sementara untuk acara formal, sulam biasanya dipadukan dengan payet yang banyak dan pita yang digunakan umumnya adalah pita organdi dan beludru.
Sementara itu, dari segiĀ metode yang digunakan ada dua cara yaitu menggambar langsung di atas media kain yang akan di sulam dengan menjiplaknya memakai karbon. Metode yang kedua adalah menggambar langsung di atas kain yang mudah digambari dengan pensil. Misalnya kain blacu atau katun. Saat ini metode menjiplak karbon yang paling banyak digunakan. Selain mudah, dapat dikerjakan untuk berbagai jenis kain. Karbon tinggal diletakkan di antara kain dan gambar pola, selanjutnya ijiplak dengan pensil atau pulpen. (imam subagio) |